Jendela Hati

ketika untaian kata mewakili rasa, asa dan impian

 

Di Persimpangan

On December 15, 2008 in Untaian Kata

Tak akan selamanya aku bisa menjagamu,
tak akan selamanya aku bisa memelukmu,
merengkuhmu dalam pelukku,
tak akan selamanya ragaku berada disisimu,
memanjakanmu dalam segala keterbatasan.

Tapi sebelum semuanya usai,
biarkan aku bernafas dalam satu helaan denganmu,
biarkan matamu menjadi mataku,
biarkan tanganmu menjadi tanganku,
biarkan jantungmu jadi hatiku,
agar cinta bisa senantiasa bertahta pada satu singgasana.

Unconditional Love

On December 01, 2008 in Cerita Novel, Untaian Kata

I found the paradox; that if you love until it hurts, there can be no more hurt, only more love.
[Mother Teresa dari Calcuta]


Aku punya segenggam bintang yang baru saja kurampas dari langit. Ingin berikan kepadamu, tapi aku tidak tahu caranya. Bintang di tanganku berkedip-kedip demikian terang, sampai aku takut orang lain dapat melihatnya. Jika ada yang melihat akulah yang merampas bintang, mereka akan menghukumku. Aku takut membayangkan apa yang mereka lakukan. Kini kusembunyikan bintang-bintang itu di dalam kotak Pandora-ku. Akan kuberikan kuncinya padamu agar hanya kau seorang yang dapat membukanya
(Halaman 33)

Hari ini hujan turun. Langit menghamburkan air seperti tak sanggup lagi menanggung kepengapan. Air berjatuhan sangat rapatnya sehingga tidak menyisakan ruang di antara tetes demi tetesnya. Rambutku basah kuyup, demikian juga dengan bajuku. Ketika aku berlari menyelamatkan diri dari hujan badai yang mengamuk, tiba-tiba aku teringat pada dirimu. Sama seperti bumi yang tergenang air, demikian juga mataku basah oleh airmata. Aku sangat merindukanmu, sayang.
(Halaman 91)

Ada sesuatu yang menyusup ke dalam palung sukmaku
Yang tak tersentuh dan tak berwujud
Hanya hati yang bisa merasakannya
Terkadang menghantam bagai ombak atau mengalun lembut
Semua mewujud dalam dadaku
Sejak kita bersua di bawah derasnya hujan

Sejak pertemuan yang pertama
Kemudian di susul pertemuan-pertemuan selanjutnya
Membuat rasa itu semakin berbunga
Aku tak pernah dengan sengaja memupuknya hingga berkembang seperti sekarang
Tadinya kupikir semua yang kurasakan akan hilang seiring bergantinnya musim
Tapi … ternyata seperti hujan yang dengan deras mengguyur
Tanpa ada celah untukku bisa berpikir dengan akal sehat
Malah meninggalkan bekas basah yang kuyup di setiap bagian hatiku

Aku memang perempuan yang pantas menyandang gelar sebagai orang paling pengecut sedunia. Kau tahu? Hari ini aku membaca tulisan tentang homoseksual di Koran dan aku sangat takut untuk melihat artikel itu, bahkan meliriknya pun aku tak berani. Seakan ada sejuta orang berada di belakang punggungku, mengetahui apa yang kubaca dan kurasa. Aku merinding,. Padahal perasaan yang kumiliki kepadamu begitu manis dan sangat indah. Membaca kata homoseksual membuatku bingung pada rasa yang kumiliki kepadamu. Bersamamu, aku belum pernah merasakan hal yang begitu alamiah dan benar. Sangat, sangat, sangat benar.
(halaman 195)

Cinta yang tidak semestinya datang
Bukan pada tempatnya
Bukan pula pada yang seharusnya
Membuatku bahagia sekaligus memilin rasa sakit menghujam jantungku dalam-dalam
Aku tutup rapat-rapat
Cukup hanya kita berdua yang tahu dan Tuhan tentunya

Musim dan tahun yang bergulir dan silih berganti
Pun tak pernah bisa menggantikan rasaku padamu
Meski kita dipisahkan jarak ribuan mil
Namun cinta ini malah semakin menancap kuat dalam kumparan takdir yang telah tertulis
Aku tak pernah bisa berhenti untuk tidak memikirkanmu
Rindu ini berbunga sekaligus layu tanpa pernah terpetik

Ada kupu-kupu baru keluar dari kepompongnya. Pertama kali kulihat ketika tanpa sengaja aku berada di kebun belakang, menyapu tumpukan daun kering yang jatuh dari ranting pohon. Sayapnya masih basah dan dia tampak kesulitan mengeluarkan diri dari kepompong. Kepompong itu sudah kering, mengerut dan berwarna cokelat tanah.Kupu-kupu itu tidak akan muat lagi berada di dalam kepompongnya jika dia bertahan berada di sana. Dia perlu berkembang dan terbang. Kulihat dia mengeringkan sayapnya di bawah terang matahari lalu tiba-tiba melompat terbang. Lihat, dia terbang tinggi! Luar biasa, aku terpesona. Ah, aku ingin sekali menjadi kupu-kupu itu. Keluar dari kepompongku karena hati yang kumiliki semakin membesar. Kepompongku tidak akan muat menanggung perkembanganku. Aku ingin mencoba sayapku untuk terbang, dan kemudian menjelajahi aneka tanaman di bawah sinar matahari. Aku ingin mengunjungi, terbang bersamamu, menikmati madu manis bunga.
Aku ingin sekali sayang.
(halaman 267)

Malam ini …
Ku tatap bintang
Kuteriak sekencang-kencangnya
Aku tak bisa melupakanmu
Aku mencintaimu …

Biarkan angin membisikannya padamu
Yang berada dibelahan dunia sana


*terinspirasi dari novel Gerhana Kembar karya Clara Ng*


Pada Masa Lalu

On November 25, 2008 in Cerita Lagu, Untaian Kata

Bersama malam tanpa rembulan,
aku terjaga dalam satu kenangan,
tentang rasa cinta yang pernah ada,
yang sempat mengisi hari-hariku dengan keindahan.

Aku yang telah terbiasa dengan cintamu,
aku yang telah terbiasa canda tawamu,
dan aku yang telah terbiasa dengan semua keindahan yang kau berikan,
tetap tak mampu menemukan cinta yang serupa dengan cintamu.

Bukannya aku tak pernah mencoba,
tapi dirimu telah mengikatku,
dengan tali kenangan yang terlalu indah untuk dilupakan,
cintamu telah mengurungku,
pada kesetiaan yang hampa.

Kepergianmu……
Jauh sudah kau meninggalkanku.
Dan kini…..
Hanya menyisakan kesedihan yang berujung pada kesendirianku.

*terinspirasi oleh lagu Tinggal kenangan - Caramel*