Pesan Untuk Cinta
On July 04, 2008 in Untaian Kata
Malam masih menyisakan bintang gemintang dilangit sana. Pagi masih malu-malu untuk hadir. Aku berjalan dikeremangan pagi, menanti matahari dibatas cakrawala sana. Sendiri, hanya sendiri….. terpagut sepi! Riak ombak yang menyentuh bibir pantai, seolah ingin menghanyutkan kesepianku agar terbawa bersama air keresahan ke tengah samudera sana.
Dalam kesendirian, dalam pagi yang semestinya indah….. kegalauan menyelinap diantara hati yang berbalut cinta. Dalam kesendirian, pada pagi yang semestinya bisa kunikmati indahnya, terbersit rasa takutku yang tak bertepi.
Aku menjerit dalam diam, meneriakkan suara jiwaku yang tak rela untuk tersakiti. “Jangan pernah tinggalkan aku…..” Meski kutahu, bathinmu belum tentu mampu untuk mendengarnya. Tapi aku tetap berharap bathinmu mampu untuk melakukannya, dan rasamu mampu untuk menyampaikannya pada nuranimu. Sepi….. hanya nada-nada dari riak ombak yang hadir samar seolah mengerti ketakutanku yang terbesar. Tentang ketakutan pada sebuah kehilangan akan sesosok cinta.
Kutatap matahari di batas cakrawala sana, lalu kutebarkan pandanganku pada sekitar. Sepi….. hanya aku yang ada dipantai itu, yang terbelenggu rasa sepi. Dalam kesendirian, dalam takut dan galau yang tak bertepi. “Tolong aku, Tuhan!”, bathinku menjerit, “tolong katakan padanya untuk jangan menyakiti aku….. karena aku terlalu takut, cintaku tak akan mampu menjadi penawarnya.” Terdiam, terduduk dibibir pantai. Kubiarkan kakiku basah oleh riak ombak yang sesekali menyapa beriringan dengan datangnya sang pagi. Lelah! Ingin kubuang rasa takut ini sejauh mungkin, agar tak ada lagi galau yang menyelinap dihatiku. Ingin kuyakini diri ini bahwa ketakutan itu tak semestinya hadir.
Surat Teruntuk Bunda
On June 29, 2008 in Ungkapan Rasa & Asa
Bunda,
Wajahmu sudah tak semuda dulu, garis nasib telah memahatkan alur kehidupan diwajahmu. Duka tersirat disana dan saat muram pun bisa kubaca di sisa-sisa tetesan air matamu, meninggalkan bekas kentara di sudut matamu. Juga saat suka, semua saat-saat terindah, senyummu mengukir sebuah garis di sudut bibirmu dan aku ikut andil atas semua garis diwajahmu.
Bunda, aku sayang bunda.
Bunda,
Tanganmu tak sehalus dulu, remah-remah kerja keras menyisakan noda kasar, tapi elusanmu tetap membuatku merasa nyaman. tanganmu pun tak sekuat dulu, kelemahan secara perlahan menggerogotinya. Tapi setiap kugenggam tanganmu, aku masih merasakan kalau engkau sedang menggendongku dan aku pun ikut andil atas semua kelemahan tanganmu. Bunda, aku sayang bunda.
Bunda,
Hanya ada setangkup do’a yang dapat kupinta pada-Nya disetiap denyut nadi kehidupanku, semoga Allah senantiasa melindungimu, menjagamu disaat ku tak berada disisimu, selalu memberi kesehatan dan keselamatan untukmu.
Bunda, aku sayang bunda.
Bunda,
Terima kasih atas pandangan kasihmu, sentuhan cintamu, lagu nina bobomu, pelukan hangatmu, air mata cintamu, keringat kasihmu, darah pengorbananmu, hingga aku bisa terlahir ke dunia ini.
Bunda, aku selalu sayang bunda.
Peluk cium,
-ananda-
Kepada-Mu
On June 24, 2008 in Ungkapan Rasa & Asa
Saat malam….
Bersihkan wajahnya dari bintang-bintang,
turunkan sepercik air suci,
tak sadar kalau rindu ini mulai bangkit.
Tuhan……
Betapa besar anugerah-Mu,
saat pandangan menjelajah gelap, aku terseok dalam kegulitaan,
meraba-raba mencari pegangan,
tangan siapa yang mampu menuntunku.
Tuhan….
Tangan kasih-Mu yang memberi terang pada jalanku.
Kemana akan kupalingkan wajah, jika setiap tatapan mata,
adalah nikmat-Mu yang tiada tara.
Ya Rabbi….
Aku berjanji, tak akan pernah ku berpaling dari diri-Mu,
jika yang ku dapat hanya kegelapan.
